You need to enable javaScript to run this app.

Mampu berkurban namun tidak berkurban

  • Senin, 12 Juni 2023
  • Didik Purnomo
  • 0 komentar
Mampu berkurban namun tidak berkurban

Pak sumarto adalah seorang karyawan disalah satu pabrik terkenal di kota Gresik, setiap hari Pak Sumar (sapaan sehari-harinya ) pulang pergi dari tempat ia berdomisili menuju tempat kerja kurang lebih 20 Km, maka kadang ia menggunakan fasilits tol dengan mobil pribadinya yang baru beberapa tahun lunas cicilanya dalam waktu 5 tahun. Ia bertinggal dengan 2 anak putra dan istrinya di Rumah pemberian oleh mertuanya. Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari terbilang cukup, walau saat ini masih punya cicilan sepeda motor yang digunakan traportasi putranya  masih sekolah di SMK.

 

Suatu hari hari Pak Sumar diajak rekan kerjanya patungan 3 jutaan untuk membeli hewan kurban sapi yang kurang satu bulan lagi akan datang, rencana akan hewan tersebut akan disembelih di masjid samping pabriknya, namun sepontan ajakan temanya ditolak oleh pak sumar beralasan masih ada tanggungan cicilan bulanan dan kebutuhan lain sehari-harinya.

 

Dari cerita singkat diatas, terkadang keadaan terserbut ditemukan disekitar lingkungan kita masing-masing dengan narasi dan latar belakang berbeda, yang sebenarnya secara kemapanan finansial memasuki kata mampu, mulai dari kebutuhan sehari-hari dirumah hingga jika ada cicilan masih terkendali. Atau mungkin pandangan beberapa masyarakat berbeda-beda mengartikan kata mampu dengan hukum menyembelih hewan kurban menurut syariat islam, sehingga bobot prioritas dan perhatian dibenak masyarakat masih ringan kalah dengan timbangan asset dunianya. Entah suatu hal apa yang melatar belakangi hal itu sehingga fenomena itu masih banyak mewarnai peradaban ini.

 

Menarik Jika melihat hikmah berkurban dan hukumnya. Salah satunya  mempunyai hikmah sebagai bentuk rasa syukur terimakasih kepada Allah swt atas pemberian rizki berupa harta benda dan keluarga, pun juga sebagai cara menyederhanakan rasa cinta berlebihan terhadap fasilitas dunia agar tidak tenggelam pada istilah terlena pada dunia.

 

Hukum berkurban diperselisihkan oleh para ulama. Menurut pendapat mayoritas ulama dari kalangan Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah hukumnya sunah. Artinya sesuatu yang apabila dilakukan mendapat pahala, bila ditinggalkan tidak berdosa.

 

Dalam haditsnya Ummu Salamah disebutkan bahwa Nabi bersabda:

 

 إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِيْ الْحِجَّةِ  وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعَرِهِ وَأظْفَارِهِ

 

“Bila kalian melihat hilal Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian menghendaki berkurban, maka tahanlah rambut dan kukunya (untuk tidak dipotong)” (HR. Muslim dan lainnya).

Syekh Wahbah al-Zuhaili berkata:

 ففيه تعليق الأضحية بالإرادة، والتعليق بالإرادة ينافي الوجوب

 

“Dalam haditsnya Ummu Salamah terdapat penggantungan kurban dengan kehendak, sedangkan menggantungkan ibadah dengan kehendak meniadakan hukum wajib”.


Sementara Abu Hanifah berpendapat bahwa kurban hukumnya wajib bagi setiap orang mukim yang mampu kecuali orang yang sedang melaksanakan haji di Mina.

Di antara argumen Abu Hanifah adalah haditsnya Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda:

 مَنْ وَجَدَ سَعَةً لِأَنْ يُضَحِّيَ فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَحْضُرْ مُصَلَّانَا

 

“Barang siapa mampu berkurban dan ia tidak melaksanakannya, maka janganlah ia menghadiri tempat shalat kami”. (HR. al-Baihaqi).

Yang menarik dari pembahasan kali ini yaitu kalimat “mampu” menjadi sorotan ulama sebagai bobot kekuatan penekanan hukum bertindak terhadap kaum muslimin. Karena kemampuan ini lah yang akan menjadi batasan orang islam dalam berkurban. Jangan sampai seseorang dianggap mampu sebenarnya dalam finansial namun karena hukum berkurban adalah sunnah ia lebih memilih tidak berkurban. Namun perlu diperhatikan pula sunnah disana mempunyai kesunahan yang ditekankan sunnah maakkad, yang memang posisinya hampir mendekati hukum wajib.

 

 

  1. Menurut mahdzab Hanafiah yaitu bahwa kurban hukumnya wajib bagi setiap seseorang yang mukim (kecuali yang melaksanakan haji) dan ia mampu dalam finansial. Kemampuanya melibihi kebutuhan wajib sehari-hari dan telah mencapai nisab zakat mal (200 dirham).
  2. Menurut mahdzab Malikiah yaitu bahwa hukum berkurban sunnah muakad bagi setiap seseorang yang mampu melihat betapa pentingnya berkurban dalam setahun sekali, walau pembelian hewan kurban dan cara berhutang.
  3. Menurut mahdzab Syafi’iyah yaitu bahwa hukum berkurban sunnah muakad bagi setiap seseorang yang mampu membeli hewan kurban dengan syarat jika kebutuhan nafkah pada hari ‘id dan tasyrik telah terpenuhi selama itu.
  4. Menurut mahdzab Hanabilah yaitu hukum berkurban sunnah muakad bagi seseorang yang mampu membeli hewan kurban dengan cara mencicil dan dapat diperkirakan lunas cicilanya dalam jangan waktu diperkirakan olehnya.

. (Syekh Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, juz.3, hal.596)

 

Dari sini juga bisa disimpulkan bahwa kerelaan menyembelih hewan kurban keadaanya hampir serupa dengan yang dialami oleh Nabi Ibrahim as yang diminta merelakan anaknya untuk disembelih sebagai wujud keseriusan iman kepada Allah swt. Walaupun sebenarnya sedikit berat menyisikan harta untuk membeli hewan kurban apalagi masih punya tanggungan cicilan bulanan. Namun kelonggaran hukum ini terpaksa banyak dipilih oleh kaum muslimin karna sebuah keadaan.

 

Semoga tulisan ringan ini memberikan kelengkapan pengetahuan tentang spirit berkurban dan bermanfaat bagi semua.

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

-->