• SMK MUHAMMADIYAH 3 GRESIK
  • ENTREPRENEUR EDUCATION

Pengalaman atau Berilmu dulu?

Aktifasi system defender diri :

Akhir-akhir ini kasus Covid-19 naik daun dipermukaan hingga pemberitaan di media social ramai menjadi pelengkap warna-warni konten dimedia social , mulai dari stok vitamin C dan zink menipis di beberapa apotik, naiknya obat invemectin yang naik gila-gilan 100% dari 7 ribu sampai 500 ribu, juga oksigen menjadi pemburuan beberapan orang yang membutuhkan, hingga lalu-lalangnya ambulan di jalan raya dengan alunan sirine yang mambuat bulu alis merinding, entah mereka sedang mecari tombo (red_jawa) atau sedang dibawa ke pemakaman. Entahlah apa yang terjadi dengan bumiku ini, berharap pademi ini cepat berlalu.

PPKM darurat telah diterbikan dan diterapkan sejak tanggal 3 kemarin, di sejumlah kota dan wilayah mulai ada penyekatan,dan beberapa obyek yang menyedot kerumunanpun mulai di disiplinkan. Menurut saya tindakan ini ada benarnya pula, karna belajar dari tahun kemarin dengan diterapkan PSBB Corona sempat melandai. Namun yang saya sayangkan kenapa mulai kemarin baru diterapkan ini, padahal disejumlah media social hingga realita sekeliling kita indicator melonjaknya orang terpapar Covid-19 ini sudah Nampak jelas, banyak yang meninggal dunia hingga pejuang nakes sudah banyak yang berguguran, apakah alaram ini menunggu di level tertinggi baru mampu menggerakkan kita, ah.. sudahlah, penonton hanya bisa mengomentari dan mengkritik sebagai pengamat.

Melihat beberapa orang-pun juga meresa gemas, kerumunan, tidak bermasker dan mengabaikan prokes masih ada pula menjadi warna kehidupan masyarakat sekitar ini, entah karena kurangnya edukasi atau literasi, atau memang sifat asli manusianya yang menjadi perioritasnya yaitu NGEYEL-NGENYANG. Hal ini menjadi warna-warni peradaban masyarakat saat ini berilmu dulu atau berpengalaman dulu baru kemudian lahir tindakan, sepertinya kedua-duanya menjadi kebiasaan manusia.

Apa harus nunggu berpengalaman baru alaram darurat diri kita aktif kah ?!, system defender ini berfungsi memunculkan insting kewaspadaan dalam diri, sehingga waspada dan hati-hati yang menjadi prioritas utama demi keselamatan dan kesehatan bersama. Sehingga setiap tindakan dan keberadaan diri kita akan selalu terkontrol dengan slogan 5 M, Mencuci tangan, Memakai Masker, Menjahi kerumunan, Menjaga jarak dan Menghindari mobilitas menjadi acuan keseharian kita.

Jika manusia ini lebih dekat dengan apa yang dirasa dan apa yang dialamainya, kemudian terlahir sebuah rangkuman tindakan dan pengetahuan, maka ia berpedoman pada pengalaman adalah ilmu sehingga ke gagalan berikutnya akan lebih hati-hati. Dalam hal ini sebagai contoh penulis sendiri mempunyai pengalaman kelam di tahun 2020 bulan Desember kemarin, kami semua terkonfrimasi terpapat virus corona yang semula kami menganggap tidak lah mungkin covid-19 ini masuk de desa dan menjangkit kami yang keseharian aktifitas kami lebih terkena sinar matahari, namun pada kenyataan salah satu dari keluarga kami harus berjuang di ICU di salah satu rumah sakit Surabaya, hingga baru 2 bulan memperoleh kata Negatif. Pengalaman ini yang membuat saya menghasilkan pelajaran dan rangkuman-rangkuman tindakan bagaimana semestinya bersikap terhadap virus corona. Nampak terlihat sekilas tindakan saya ini dinilai berlebihan, mulai dari Handsanitizet di tiap sudut rumah, tiap hari rumah terseteril lampu UV, menggunakan masker dirumah, dan lain sebagainya. Hal ini adalah bentuk kewaspadaan dan kehati-hatian, terlihat mirip dengan rasa ketakutan yang katanya dapat menurukan imun.

Memang benar kami takut, bukan karena kami takut terhadap virus ini, namun kami takut jangan sampai terulang lagi di kejadian yang sama, sungguh sangat bodoh sekali tidak bisa mengambil ilmu dari pengalaman yang telah terlewati. Dan rasa takut ini justru membuat kewasapadaan diri muncul dan lahir system defender diri agar tidak ceroboh dan sombong terhadap makhluk kecil yang Allah ciptakan untuk peradaban manusia di bumi.

Sudah jelas sekali dalam al-Qur’an banyak ayat yang menyinggung tentang kalimat TAKUT. Sebanyak 41 kali kalimat takut ini terulang dalam al-Qur’an di beberapa tempat dan bentuk varian yang berbeda-beda, dan yang menarik dalam surah al-Qur’an ayat 155, yang artinya :

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.

Jelas sudah dengan ayat ini kita seharusnya tidak memunculkan kalimat sombong dimulut untuk mengalihkan rasa takut pada diri, setidaknya terima dan akui rasa takut ini sebagai wujud makhluk yang lemah dihadapan kekuasaan-Nya. Memang ada beberapa orang beropini aneka ragam penyikapan diri terhadap virus ini, yang pada dasarnya ia hendak menyenderhanakan rasa ketakutannya dalam dirinya dengan mengeluarkan opini di public, boleh saja namun jika terkonsumsi kaum yang minim edukasi apa malah tidak berbahaya mengabaikan prokes dan membahayakan lainya.

Ayat diatas sudah Nampak jelas, kelaparan, kekurangan harta, penguranganan jiwa (kematian) dan buah-buah adalah sumber rasa ketakutan manusia yang sebagai sarana Allah swt menjadi cobaan dan ujian untuk kita semua, namun dengan The Power Of Sabar akan menjadi system imunt meningkat, karena di dalamnya ada kegembiraan bagi orang-orang yang melaluinya. Memang tidak cukup disini bagaimana mengurai sabar ini menjadi rasa bahagia, setidaknya Allah swt memberikan kata kuncinya.

Berikutnya, apakah harus berilmu dulu baru akan lahir system pertahan diri ini aktif kah ?!,

Insyallah ditullisan selanjutnya akan dilengkapi.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
BLESSING IN DISGUISE

Di dunia ini telah Allah tetapkan kadar atau takaran yang berbeda-beda bagi setiap ummatNya. Semua hal yang kita usahakan baik berupa nikmat, pasangan, jabatan, dan lain sebagainya ten

08/07/2021 22:40 - Oleh Yussi Fadlilatun Nisa - Dilihat 339 kali
Kiat Sukses Pembelajar Produktif pada Era Pandemi COVID-19

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Bangsa Indonesia adalah produktivitas sumber daya manusia (SDM). Bangsa yang unggul dilihat dari tingginya tingkat produktivitas SDMnya. Meru

07/05/2021 10:07 - Oleh Administrator - Dilihat 164 kali